Selamat datang diblo saya

Kamis, 06 Juni 2013

Jakarta

Turun dari bis, tiga anak manusia terlihat bingung mencari arah. Dimana angkot nomer 06? Setelah lama mencari barulah yang dimaksud oleh sang navigator angkotnya nomer 16. Orang-orang pasti mengira kami adalah bocah urban yang mencari peruntungan di tanah Batavia. Ya, Jakarta. Sebagai ibu kota Negara, Jakarta adalah representasi dunia atas Indonesia. Kecanggihan alat transportasi, angka kriminalitas, angka pengangguran, semua merepresentasikan kondisi Indonesia.
                Menurutku, hal yang paling mengerikan di Jakarta adalah. GEDUNG. Entah karena aku orang udik atau karena aku cantik, gedung-gedung tinggi menjulang diJakarta selalu meresahkan hatiku. Bukan karena dia merebut suamiku, tapi karena keangkuhan dan kesombongannya. Bagiku, gedung-gedung tinggi itu seakan berkata “disini kami menguasai kehidupanmu 20 tahun kedepan!”. Jadilah aku ingat dengan serial drama korea Boys Before Flower. Dulu, bagiku lelaki macam gu junpyo tidak mungkin ada di dunia nyata, selain rambut permnya. Mana mungkin lelaki yang bisa bangun di bali, makan siang di hawai dan tidur malam di menara Eiffel ada. Tapi nampaknya gedung-gedung itu juga mengatakan “ada gu junpyo disini”. Kau bisa membayangkan, tiap kali aku memandang gedung tinggi, ada wajah gujunpyo dengan rambunya keritingnya. So annoying!.
                Terlalu tinggilah kalau kita membahas gedung tinggi, mari kita turun puluhan meter dibawahnya. Gerobak-gerobak kayu beratapkan bendera partai banyak di parkir didepan pertokoan. Bukan sampah yang mereka angkut, tapi perut yang lapar. Padahal dibelahn daerah Indonesia yang lain belum selesai partai-partai itu bagi-bagi motor. Setengah meter dari sana, berdiri rumah mewah segede alaihim. Didalamnya ayah, ibu, dan anak bercengkrama tentang lokasi liburan selanjutnya setelah konser super junior yang akan diadakan dua malam selanjutnya.
                Huftt… itulah Jakarta, itulah Indonesia. Pada siapa pemilik rumah gerobak itu akan mengeluh jika satpol PP akhirnya menangkat mereka karena sangkaan merusak pemandangan kota? Pemerintah mana yang harus mereka patuhi? Terkadang kita lupa mencoba sudut pandang lain ketika berfikir, hanya karena kita tak pernah menginderanya apakah itu bermakna ia tiada?
Jakarta hanyalah sekian decimal persen dari korban bencana kapitalisme yang sedang melanda dunia. Ia tak bisa diselamatkan oleh supermen apalagi yang bocah kayak astroboy. Dunia butuh Naruto. Lho? Maksud saya dunia butuh perbaikan. Yang perlu kita sadari bencana kapitalisme ini tidak hanya menyerang Indonesia, apalagi Jakarta. Negara-negara timur tengah yang kaya akan minyak bisa dibawah kediktatoran, kaum muslimin terus dibantai, orang miskin amerika terus menerus meningkat, wall street nyaris lumpuh, system hukum yang tajam ke bawah tumpul ke atas.
Inilah rangkaian hari pertama dengan rute bandara-kalibata-bidara cina-istiqlal-monas-istiqlal-bidara cina. Hari kedua adalah jawaban dari episode suram diatas. Makanya tunggu episode selanjutnya.

Catatan jempol:
1. Konoha kena bencana kapitalisme juga ga ya?
2. Episode suram ini sudah terjadi lebih dari 90 tahun, sudahlah lelah dunia membopong demokrasi yang segitu mahalnya. Mari buka literature berapa banyak dana yang sudah dikeluarkan Indonesia untuk demokrasi. Kata ustad Abay, demokrasi tidak boleh disamakan dengan sampah, karena sampah masih bisa di daur ulang, sedangkan demokrasi harus dimusnahkan dan dihilangkan, hingga debu-debunyapun tak kita hirup
3. Ini kisah pra keberangkatan Baru saja naik ke travel aku kaget mendengar kabar kalau seorang ustad kondang akan naik travel yang sama dengan aku dan kawan-kawan. Katanya namanya ustad Yusuf Mansyur, kontan saja aku langsung nanya “ boleh minta tanda tangan ga ya?”.  namanya juga anak kampung, aku heboh aku waktu tau akan bertemu langsung dengan orang yang suka tampil di tivi, jangankan ustad Yusuf Mansyur, kalau ada pencuri ayam di dekat rumah yang ketangkap polisi terus masuk tivi aku pasti datang ke rumahnya nitip tanda tangan. Tapi, ya sudah lah ya. Toh ternyata yang aku temui bukan ustad Yusuf Mansyur tapi seroang bapak yang memang namanya Yusuf Mansyur, aku dan kawan hanya bisa saling pandang. Jadilah perjalanan aku habiskan dengan tidur sambil menahan sesuatu agar tidak keluar dari perut.

Rabu, 05 Juni 2013

Khilafah buat semua


Seorang teman pernah menuliskan dalam salah satu jendela sosmed tentang kekecewaannya pada kondisi yang memaksa dia untuk tidak melaksanakan ibadahnya, karena mayoritas berkehendak hari itu digunakan untuk ujian. Ia berkomentar cukup tegas dengan mengatakan ia mengorbankan hari ibadahnya demi mayoritas bahkan ia mengatakan ia tidak heran jika kaum muslimin di belahan dunia lain diperlakukan semena-mena karena iapun merasakan hal yang serupa di negeri ini. Jelas, yang ia maksud dengan mayoritas adalah Islam yang memang mayoritas di negeri ini. Saya sangat mengerti apa yang ia maksudkan. Saya paham, bahkan saya merasakan apa yang dia rasakan.
Jika dikatakan minoritas pastilah mengikuti mayoritas,  maka sebenarnya hal itu tidak bisa dikatakan benar secara keseluruhan. Sebagai seorang muslim, selama ini sayapun merasa tidak bisa melaksanakan Islam sesuai dengan aturan ibadah yang ditetapkan dalam Islam. Bahkan untuk sekedar sholat, hak itu pun sering kali tidak diindahkan di republik ini. Dalam sistem pendidikan sekuler seperti sekarang, kadang kala waktu kuliah berbarengan dengan waktu sholat sehingga memaksa mahasiswa muslim untuk sholat di akhir-akhir waktu. Bahkan tidak jarang, ada situasi yang memaksa mahasiswa muslim meninggalkan sholatnya misalnya pada saat ospek universitas. Dari sinilah saya berpikiran bahwa saya dan kawan saya ini berada pada posisi yang sama. Sama-sama tidak mendapatkan hak masing-masing, apapun  agama kita baik minoritas ataupun mayoritas. Oleh karena itu, mungkin yang harus diluruskan disini, bukanlah Islam yang membuat kawan saya ini tidak dapat melaksanakan ibadahnya dengan leluasa hanya karena pelaku pembuat kebijakan adalah seorang muslim, sama sekali bukan. Sebab Allah secara jelas menyatakan dalam Al-quran “lakum diinukum wal yadiin” bagimu agamamu, bagiku agamaku. “laa iqraha fiddin” tidak ada paksaan dalam agama.
Jika kita menilik sirah (perjalanan hidup) Rasulullah, sangat jelas bahwa Islam sangat menghargai perbedaan agama. Rasulullah SAW bersabda barang siapa menyakiti orang kafir dzimmi, maka aku akan menjadi lawannya pada hari kiamat. Hadist inilah yang menjadi hukum syara penjagaan harta dan kehormatan non muslim dalam sistem khilafah. Sistem inipun telah terbukti selama berabad-abad mensejahterakan manusia, baik kaum muslimin maupun umat agama lain. Spanyol (Andalusia), yang dulu merupakan bekas bagian dari kekhilafahan adalah kota dengan julukan the land with 3 religion. Kristen, yahudi dan islam hidup dibawah payung yang sama yaitu khilafah islamiyah. Masing-masing orang, apapun latar belakang agamanya, akan mendapatkan hak yang sama sebagai warga Negara. Jika kaum muslimin diwajibkan untuk menuntut ilmu, maka bagi agama lain menuntut ilmu adalah hak bagi mereka sebagai warga Negara. Jika dalam keadaan perang kaum muslimin diwajibkan untuk berjihad mengangkat senjata, maka bagi agama lain darah mereka dijamin penjagaannya oleh Negara. Jika begini adanya, di mana posisi islam sebagai agama yang pilih kasih?
Yang perlu kita sadari bencana kapitalisme bukan hanya menyerang kaum muslimin saja tapi juga umat agama lain yang juga direnggut hak-haknya. Republik Demokratis Kongo merupakan negeri mayoritas nasrani yang juga termasuk negeri miskin dengan PDB perkapita hanya $348 (data tahun 2011). Bahkan secara umum, benua afrika di huni oleh baik muslim maupun non muslim yang kedua-duanya mengalami kemiskinan dan penderitaan yang sama.

Maka benar kata Hj. Irene Handono bahwa perjuangan untuk khilafah berarti perjuangan untuk berbagai suku bangsa, warna kulit dan tentu saja berbagai agama, berjuang untuk umat manusia di seluruh dunia. Khilafah adalah sistem yang menjadi janji Allah bagi kaum muslimin, menjadi kebutuhan bagi kaum muslimin sekaligus bagi umat agama lain. Ustad felix Siaw pernah mengatakan tidak layak bagi seorang muslim mempertanyakan benar tidaknya janji Allah akan terjadi, benar tidaknya Islam akan tegak kembali, atau benar tidaknya Khilafah akan tegak lagi, sebab pertanyaan ini hanya layak untuk diajukan oleh kaum non muslim yang memang tidak mempercayai Allah sebagai Tuhannya. Kaum muslimin? Setiap hari kaum muslimin mengucapkan dua kalimat syahadat di setiap sholatnya. Apakah pantas dzat yang tiap pagi dan sore hari kita kuduskan namanya tidak kita percayai perkataan dan tuntunannya?

Senin, 27 Mei 2013

Generasi Emas dari Rahim Wanita


     Suatu peradaban lahir sebagai produk sebuah ideologi atau paham yang diadopsi oleh masyarakat pada zamannya. Ideologi ini yang akan membentuk pola pikir dan pola sikap masyarakat sekaligus menjamin seberapa jauh peradaban itu akan bangkit dan eksis. Peradaban yang maju ditandai dengan berbagai macam faktor, baik dari sisi ekonomi, perkembangan teknologi informasi, kemajuan sektor pertanian dan dari sisi kata dasar peradaban itu sendiri yaitu “adab” yakni dengan menilai seberadab apa masyarakat yang hidup di era itu.
            Dunia telah melalui berbagai peradaban, entah itu sebentar saja atau hingga berabad-abad lamanya dengan segala keunggulan dan keterbelakangannya. Tentu kita mengenal peradaban yunani kuno, peradaban mesir kuno, peradaban Persia, dan tentu saja peradaban Islam yang berdiri di atas ideologi Islam. Islam sebagai agama yang sempurna dan paripurna telah hadir sebagai paham yang mampu mengakomodir kebutuhan jasmani dan naluri manusia. Kesempuranaan Islam mampu melahirkan sebuah peradaban keemasan yang unggul dalam segala bidang, baik dari sisi ekonomi, perkembangan ilmu pengetahuan teknologi, kemajuan sektor pertanian dan pengolahan sumber daya alam, dan pada waktu yang sama keberadaban manusia dapat dibangkitkan oleh Islam dengan  melahirkan faqih fiddin yang menguasi ilmu agama.
            Jika ditanyakan, siapakah yang ada dibalik keberhasilan Islam dalam mendidik anak-anak muslim untuk menjadi generasi emas? Dalam Islam pendidikan selalu dimulai dari unit terkecil dalam sebuah masyarakat yaitu keluarga. Keluarga merupakan lingkungan pertama yang akan menjadi tempat calon pemimpin tumbuh dan berkembang. Dalam hal ini, sosok yang berperan besar adalah ibu atau wanita. Tidak ada peradaban di era manapun yang memposisikan wanita semulia dan seterhormat Islam. Kemuliaan wanita di jamin dengan posisi terbaik yang tidak hanya diharapkan di dunia tetapi juga di akhirat. Peran wanita yang utama adalah sebagai ummu wa rabbatul bait, ibu dan pengatur rumah tangga. Di mata para feminis dan genderis, peran itu terdengar kampungan dan tidak elit, seakan-akan bahasa pengatur rumah tangga sama dengan babu atau pekerja kasar yang aktivitasanya hanya berhubungan dengan kasur, dapur, dan sumur. Wajar jika barat mengopinikan hal macam itu, sebab barat, semaju apapun peradaban yang pernah mereka rasakan tidak pernah mampu memposisikan wanita pada tempat yang ideal yang mampu memuaskan wanita, sedangkan Islam menjanjikan wanita singgasana terbaik jika ia mampu mendidik keluarganya dan mengantarkan mereka pada kebahagiaan hakiki.
            Wanita di dalam Islam bukanlah seperti yang diopinikan oleh kaum feminis itu, dimana dikatakan penuh dengan kebodohan dan penindasan. Didalam Islam, wanita diwajibkan untuk pandai dan berilmu, sebab bagaimana bisa ia mendidik calon pemimpin jika ia tidak berilmu. Anak-anaknya merupakan murid yang harus mampu ia giring pada kebaikan dan tentu saja keberadaban, hingga mereka nantinya akan lahir sebagai pribadi beriman, taat hanya kepada Allah, kuat pendiriannya, pandai bergaul, cerdas, dan mempunyai kepedulian pada masyarakat. Inilah generasi-generasi unggul yang siap memimpin bangkitnya peradaban gemilang Islam.
Serangan ideologi sekuler yang sedang membangun peradabannya saat ini telah meluluhlantakkan unit keluarga. Masyarakat yang semakin terjauhkan dengan Islam berpandangan bahwa wanita yang sukses adalah wanita yang mampu bekerja membantu keluarga dalam mendapatkan penghasilan dan kehidupan yang ideal dari sisi keuangan. Peran wanita di ranah publik seakan menjadi fardlu yang akan mampu mengangkat derajat kehormatan keluarga di mata masyarakat.
Islam tidak pernah membatasi profesi yang akan digeluti oleh wanita baik dalam bidang kewirausahaan dan kelimuan. Toh kita melihat ummul mukminin Khadijah adalah seorang pedagang ternama dengan aktivitas marketing yang sangat padat namun kita temui pula anak-anak beliau menjadi pejuang-pejuang Islam yang namanya harum ditengah-tengah kaum muslimin. Kitapun mengenal Maryam al Asturlabi, seorang wanita yang hidup pada masa kekhilafahan bani umayyah, mampu menelurkan penemuan besar yang menjadi bakal perkembangan teknologi abad 21 ini, namun ia pun wanita sholihah yang patuh pada rambu-rambu syariah.
Herannya, umat saat ini masih berkaca pada imperium barat yang bahkan hanya bisa berdiri diatas kaki-kaki negeri-negeri muslim. Pasak-pasar yang mereka tanam sudah mulai tumbang dan akan segera tercerabut. Umat masih berkaca pada ide persamaan gender yang disuarakan para feminis yang mereka sendiri lahir dari keluarga broken home dan hidup dengan disorientasi seksual. Tak pernah ada bukti ide gender berhasil menyelesaikan permasalahan perempuan, yang terjadi justru sebaliknya. Ide gender melemparkan wanita ditempat terendah sebagai mesin pencetak uang dan tiang-tiang ekonomi dunia.
            Allah adalah sebaik-baik pemelihara, Ia menjelaskan rambu-rambu manusia dengan penuh kasih sayang dan kepedulian. Tak tega sesungguhnya Ia melepaskan manusia dengan akal terbatas yang mereka miliki. Oleh karenanya, Allah meletakkan cahaya ditiap jalan agar manusia mampu melihatnya dan mengikuti arahnya. Peran wanitapun demikian, pilihannyalah apakah ingin mulia dengan Islam atau hina tanpanya. Dengan patuh pada aturanNya, niscaya generasi emas akan lahir dari rahim-rahim wanita kaum muslimin. Wallahu a’lam

Kamis, 18 April 2013

Kelas

Remuk rasanya badan pagi itu, alhamdulillahnya aku jenis manusia yang bisa tidur dimanapun dalam kondisi apapun, termasuk di dalam kolong tempat tidur Rumah sakit. Meski terantuk besi ranjang berkali-kali, toh aku bisa balik lagi ke mimpiku (imagine! I can still dreaming). Ada sekitar 12 ranjang dalam ruangan 10x 3 m dengan dua kipas angina yang menyala sepanjang malam. Inilah yang disebut dengan kelas!
Sejauh yang ku baca, kelas social lahir di dunia kapitalistik dimana perbedaan merupakan hal yang sangat nyata. Tak dapat dihindarkan. Kulit adalah perbedaan, warna mata, tebal dompet, luas halaman rumah, gelar, merk sepatu, jenis gatget, semua adalah perbedaan. Untuk menegaskanya, digunakanlah kelas. Singkatnya, karena kita berbeda, kita perlu pengelompokkan agar semua orang mendapatkan hak sesuai dengan perbedaan itu.
Lebih parahnya di Negara-negara eropa denga mayoritas bermata biru, maka secara otomatis kelaspun akan dibagi berdasarkan warna mata. Ibaratnya nih, kalo ada dua manusia datang ke rumah sakit dengan kondisi yang sama gawatnya, pihak RS akan memanggil “bapak yang warna matanya biru silakan masuk”. Yang warna matanya tidak biru hanya bisa membatin “salah siapa? Salah gue? Salah temen-temen gue, kalo mat ague ga biru?” (Ala AADC) selanjutnya scene dilanjutkan dengan pembacaan puisi “ku lari kehutan kemudian teriakku, benci sendiri…”
Benar pertanyaan lelaki-tidak-bermata-biru tadi, salah siapa kalau mata dia tidak biru. Jelas bukan salah dia, apalagi teman-teman dia. Sejatinya teori macam ini tidak semestinya terjadi, jika akal kita masih normal, atau paling tidak kita masih mau mikir. Apa yang membuat orang bermata biru lebih terhormat disbanding mataku yang cokelat dan sipit. Toh, kita tidak akan di hisab atas warna mata kita nantinya.
Diskriminasi kelas terjadi pada masa pra revolusi perancis, namanya budak sama juragan, jongos sama yang dijongosi jelas posisinya. Dan jelas ini tidak mendatangkan kedamaian karena aka nada terus menerus benturan antar dua kelas itu. Pasca revolusi perancis, harapan orang-orang seperti lelaki-tidak-bermata-biru pupus hanya tinggal harapan. Taka da perbedaan, keadilan yang diusung selama masa revolusi terdistorsi hingga kehilangan makna. lelaki-tidak-bermata-biru tetap menjadi jongos dan juragannya tetap mereka yang bermata biru.
Itulah kapitalisme. Bukan sok keren, makanya bahas kapitalisme. Hanya saja, kejadian lelaki-tidak-bermata-biru biru tadi ada 100 meter dari kontrakan saya. Bisa jadi itu juga ada bukan 100 meter dari rumahmu, tapi tepat dibawah hidungmu. Tidak lama lagi, hanya kaum borjuis yang bisa naik angkot. Orang Indonesia setara lelaki-tidak-bermata-biru paling banter hanya bisa jadi supir atau kenek angkot, Karena minyak kita dimiliki para kapitalis.
Balik ke TKP di RS tadi, baliho depan RS tentang pelayanan prima sebenarnya diikuti tanda bintang *kalau duit anda tebal yang ditulis dengan ukuran font 9. Jadi pertanyaannya, kenapa harus ada kelas social kalau ada yang namanya keadilan social?
Pletak! Aku di jitak. Katanya “jangan singgung2 tentang pancasila, ntar di tuduh tidak pancasilais”. Lalu aku hanya bisa diam. Menunggu sampai ia pergi, lalu kembali berkoar-koar

Selasa, 26 Maret 2013

selamat bodoh wahai orang sombong

berbeda orang yang selalu merasa bodoh dan orang yang merasa cukup dengan pengetahuannya.orang bodoh akan selalu menerima banyak diskusi karena dari sanalah ia akan selalu merasa bodoh, lain dengan orang yang selalu merasa pintar, ia menghindari diskusi karena merasa pemahamannya sudah benar dan telah sempurna.

seperti apa kau?
kita tau bahwa kebenaran hanyalah milik Allah, kita hanya berusaha untuk semakin dekat pada kebenaran dengan menyandarkan pada kitab tebal di lemari tiap muslim dan lisan, perilaku, serta diamnya Rasul. selama kita punya standar yang sama, monggo sama-sama berjalan kepada satu tujuan itu. lebarkan telinga, buka mata lebar-lebar, simak semua perbincangan yang berlari mendekati kebenaran. pelajari semuanya, pikirkan semuanya. apa yang ditakutkan? takut didebat? takut harus menyerah?

ilmu bukanlah masalah menang kalah, ilmu adalah perkara kebenaran. mengapa merasa hina jika mendapat kebenaran dari orang lain? mengapa merasa buruk jika mendapat teguran dari kawan lain? sungguh itu hanya  kesombongan yang darinya lahir kebodohan. selamat bodoh bagimu orang sombong! yang merasa jemarinya relah menyentuh surga, padahal aromanyapun tak ia rasakan...

menjemput kematian


Ada suatu waktu di mana aku ingin segera mati saat itu juga. Suatu waktu dimana aku siap jika Allah memutuskan nafasku saat itu juga. Menghentikan aliran darah dinadiku setik itu pula. Waktu dimana aku sedang berteriak lantang “Allahu Akbar”
Pernah melihat seseorang yang rela menyisihkan setengah hartanya untuk dakwah, dia ada disini, pernah melihat orang yang rela ayahnya membakar jilbab miliknya hanya untuk dakwah?, dia ada disini. Pernah melihat seseorang yang rela menempuh ribuan kilometer hanya untuk dakwah? Dia juga ada disini. Jika ditanyakan pada mereka apa yang menjadi tujuan perjalananmu? syahid
Inilah cita-cita para ghazi, cita-cita para ghuroba, cita-cita para pemegang bara.
Mungkin masih banyak yang mencibir, mungkin masih banyak yang bertanya, apa yang mereka lakukan dijalanan di siang bolong. Namun, mungkin pula, suatu saat mereka juga akan menyesali “mengapa saya tidak bersama kalian saat itu?”
Semoga Allah memberikan waktu yang tepat pada kematian kita, sehingga tak salah jika hari itu kita tersenyum sumringah, karena Israilpun menyambut kita…

Senin, 25 Maret 2013

rumah sakit jaman mbois

"Ayahku! Kau bertanya, apakah kau harus membawa uang untukku. Bila aku sudah sembuh dan keluar nanti, rumah sakit akan memberiku pakaian baru dan lima potong emas, sehingga aku tak harus langsung bekerja. Kau pun tak perlu menjual ternak kepada tetangga. Tapi hendaknya kau segera datang, jika kau masih ingin menemuiku di sini. Aku terbaring di bagian ortopedik, bersebelahan dengan saal operasi. Bila kau datang melalui pintu masuk utama, berjalanlah lurus melalui aula bagian selatan. Di situ ada poliklinik, tempat aku diperiksa pertama kali setelah aku terjatuh. Di sana setiap pasien baru akan diperiksa oleh para asisten dokter dan mahasiswa, dan jika seseorang dianggap tidak perlu dirawat-nginap, maka ia akan segera diberi resep obat, yang dapat ditukarkan di apotek rumah sakit. Setelah diperiksa di sana aku lalu didaftar, lalu diantar menemui dokter kepala rumah sakit. Seorang perawat memapahku masuk ke bangsal pria, memandikan tubuhku dan mengenakan pakain pasien yang bersih. Di sebelah kiri kau dapat melihat perpustakaan, dan ruang kuliah besar berada di belakangmu. Di situlah biasanya dokter kepala memberikan kuliah kepada mahasiswa. Gang di sebelah kiri beranda adalah jalan menuju bangsal wanita. Kau harus tetap mengambil jalan sebelah kanan, terus melewati bagian internis dan bagian bedah. Bila kebetulan terdengar alunan musik dan lagu-lagu dari salah satu kamar, cobalah tengok di dalamnya. Boleh jadi aku sudah berada di sana, di sebuah ruang khusus untuk para pasien yang sudah sembuh. Di situ kita dapat membaca buku-buku sambil menikmati alunan musik sebagai hiburan. Pagi tadi, ketika dokter kepala bersama para asisten dan perawat dalam kunjungan kelilingnya menjenguk dan memeriksaku, kepada dokter yang merawatku ia mengatakan sesuatu, yang tak aku pahami. Maka ia lalu menjelaskan kepadaku, bahwa besok pagi aku sudah boleh bangun dan meninggalkan rumah sakit. Keputusan yang sebenarnya belum aku inginkan.  Rasanya aku masih ingin tinggal di sini lebih lama lagi. Di sini semuanya begitu bersih dan terang. Tempat-tempat tidurnya empuk, sepreinya terbuat dari kain damas putih dan selimutnya lembut seperti beludru. Dalam setiap kamar tersedia aliran air, yang akan dihangatkan bila malam yang dingin tiba. Hampir tiap hari disuguhkan masakan daging unggas atau domba panggang, yang sangat cocok bagi kondisi perut para pasien. Pasien di sebelahku telah dengan sengaja selama seminggu pura-pura masih sakit, hanya agar ia masih bisa menikmati kelezatan gorengan ayam dalam beberapa hari lagi. Tapi dokter kepala mengetahui hal itu. Karena itu ia pun disuruh segera pulang. Namun untuk menunjukkan bahwa pasien itu sudah benar-benar pulih kesehatannya, ia masih dibolehkan sekali lagi menyantap hidangan roti keju dan ayam panggang.  Nah, ayah, datanglah, sebelum daging ayam terakhir untukku dipanggang!"
(surat salah satu pengelana didunia Islam)

ingat, yang diatas itu adalah surat yang datang kurang lebih 1000 tahun yang lalu bukan fasilitas rumah sakit jaman melenium kayak sekarang. logikanya, perkembangan teknologi ini akan searah dengan waktu bukan. tapi, pada faktanya, rumah sakit jaman baheula jauh lebih mbois daripada rumah sakit jaman ultramen kayak sekarang. cobalah tengok sesekali bangsal anak di Rumah sakit pemerintah terdekat. rumah sakit jadi semacam lingkaran setan, bukan karena banyak penampakannya, namun karena keluarga yang tadi ingin nambah pahala berkunjung pada saudara yang sakit akan menjadi target kuman selanjutnya. 

ingat kisah anak dera yang meninggal di pangkuan ayahnya karena di tolak 10 rumah sakit? saya semakin tak dapat membedakan yang mana sinetron yang mana kenyataan. terutama bagi tenaga kesehatan, semoga saja idealisme membantu sesama tidak luntur dimakan uang dan kesulitan hidup. ya, it's all about money. karena ini era kapitalistik, tak  heranlah ginjalmu akan dijual 1 atau 2 M untuk orang kaya yang kerjaannya minum minuman keras sampai ginjalnya enggan tetap berada ditubuhnya...

ayolah penggerak, dunia kini tak sama, dunia kini ladang pahala, ia meminta untuk diubah..