Jikalau dunia dibanjiiri kemaksiatan, akan selalu ada sosok pemberani yang menantang jaman. Pun jikalau bumi ramai dengan makian, akan selalu ada lisan yang basah menebarkan nasehat ke seluruh alam. begitulah dunia bekerja, begitulah Allah mengaturnya.
setetes air mata jatuh ke kerudung besarnya. ia adik yang penuh dengan keceriaan. siapa yang tau ia memiliki banyak ketakutan. terlihat ia berusaha merajut benang keberanian yang entah sejak kapan di gunting kekecewaan berbalut kesal. tak yakin dia akan menjadi sosok pemberani dan penebar nasehat, padahal begitu sering lisannya bertasbih begitu ingin suaranya mengumandang kebaikan.
dia punya kisah...
Manusia lahir dengan berbagai kisah, di tiap untai nafasnya ada cerita yang telah Allah rancang. Manusia adalah calon bintang yang sedang di casting untuk cerita besar yang lebih hebat lagi. sayangnya, tidak semua manusia mau menjadi pemerannya. banyak yang terlalu takut untuk gagal. alih-alih mereka mencari kisah lain yang tak punya makna tak berujung bahagia. mana manusia tahu apa yang menanti mereka.
Itulah dunia, kalau saja manusia ingin mengerti. biarkan Dia memacu adrenalinmu, menggagas semangatmu, menyambungkan jutaan neuron di otakmu. Untuk membuat kisah semakin indah, sehingga tak malu kita saat bioskop besar di tanah lapang ma'syar ditayangkan.
Ayah, ibu adalah bagian dari ceritaNya. mereka adalah cameo di kisahmu. kehadiran mereka adalah bumbu pelipur lara sekaligus tokoh antagonisnya. Kisahkan mereka dengan indah, dengan bulir-bulir air mata dipangkuan mereka atau genggaman tangan di jalan raya atau duduk bersila bersama di taman surga. kalaupun ia jauh berseberangan, Allah perintahkan tangannya tetap kita cium. Tapi Allah tetaplah yang utama, sebab Ayah kita adalah pegawaiNya. Syukuri semua skenarioNya, hingga kisah ini berakhir dan kita menjadi selebriti di surga.
Selamat datang diblo saya
Jumat, 21 Juni 2013
Minggu, 09 Juni 2013
Berani di tampar
menurut saya, tidak ada yang lebih menyesalkan dari kehilangan hafalan dan kehilangan kebiasaan, dan kedua hal itu akan terjadi secara bersamaan ketika datangnya silkus wanita. Ya, hari libur wanita dari aktivitas ibadah mahdhoh. ketika liburnya telah berakhir, saya harus kerja keras lagi memunculkan kebiasaan yang sudah sebelumnya saya bangun. agak repot memang, tapi disitu juga tantangannya...
seminggu yang lalu, saya bertemu dengan seorang teman. sebenarnya dia bukanlah kawan jauh, kami dulu pernah satu halqah (pengajian), namun karena satu dua hal dia dipindahkan ke kelompok lain. lama tak bersua, dia membuat saya merasakan emosi yang berubah-ubah selama 2 jam durasi pertemuan kami. satu waktu dia memaksa saya terdiam sambil menitikkan air mata, diwaktu lain dia membuat saya tertawa terbahak sambil sesekali menyeringai miris dengan hal yang dia sampaikan. secara tidak langsung dia telah menguasai kemampuan komunikasi dasar yang diajakan dr Arif pada mata kuliah Ilmu Kesehatan Masyarakat. sungguh dakwah memang perlu keahlian itu..
huff... dia membuat saya terkejut dengan semua perubahannya, bisa di bilang dia berlari sudah sangat jauh. namun jangankan dirinya, segala cita-citanya pun sudah jelas tepat ada didepan matanya.
"aku tidak tertarik dengan matematika Ndang, jadi aku harus mencari hal lain yang aku sukai"
"aku ingin menjadi pembicara hebat, mengisi acara training, membuat event organizer, membuat ini ... itu"
banyak sekali yang telah jelas ingin ia raih.
beginilah rasanya terjungkal dari tempat duduk. beginilah cara Allah memberikan tamparan. sayangnya ada orang yang hanya perlu di tampar sekali maka ia akan bangkit dari tidur panjang, ada pula yang perlu ditampar bolak balik agar ia mau sekedar memikirkan apa yang hendak ia raih. sayangnya lagi, aku yang nomer dua.
"aku tidak tertarik dengan matematika Ndang, jadi aku harus mencari hal lain yang aku sukai"
"aku ingin menjadi pembicara hebat, mengisi acara training, membuat event organizer, membuat ini ... itu"
banyak sekali yang telah jelas ingin ia raih.
beginilah rasanya terjungkal dari tempat duduk. beginilah cara Allah memberikan tamparan. sayangnya ada orang yang hanya perlu di tampar sekali maka ia akan bangkit dari tidur panjang, ada pula yang perlu ditampar bolak balik agar ia mau sekedar memikirkan apa yang hendak ia raih. sayangnya lagi, aku yang nomer dua.
Maaf anda kesasar...
Sebuah catatan kehidupan, bukti bahwa raga ini pernah hidup, hujjah bahwa jiwa ini pernah bangkit, dan pemakluman bahwa aku hanyalah seorang manusia.
Selamat datang di blog saya, perkenalkan saya Endang Rahayu Tri Purwandhany, banyak orang yang menyangka bahwa saya orang jawa asli. tidak salah, karena kedua orang tua saya memang orang ciamis asli. hanya saja, identitas kejawaan saya sudah terdistorsi karena kemampuan berbahasa jawa yang jongkok dan
mata sipit seperti cici penjual emas.
yah, tak perlu lah itu dibahas. toh kemampuan berbahasa yang jongkok dan kesipitan mata saya tidak akan dimintai pertanggungjawaban. saya masihlah sama dengan anak perempuan sipit yang suka membuat cerita fantasi, saya juga masih sama dengan saya yang suka curhat tentang masalah orang lain dibuku harian saya sendiri. masih sama, hanya kini saya ingin disebut seorang penulis. Ya, meskipun belum menelorkan satu karya pun, saya ingin dikenal dengan sebutan itu. paling tidak itu saya tahu kalau saya ga bodoh-bodoh amat.
so, enjoy your self, jangan lupa saya sudah ingatkan kalian bahwa anda kesasar.
selamat membaca...
Selamat datang di blog saya, perkenalkan saya Endang Rahayu Tri Purwandhany, banyak orang yang menyangka bahwa saya orang jawa asli. tidak salah, karena kedua orang tua saya memang orang ciamis asli. hanya saja, identitas kejawaan saya sudah terdistorsi karena kemampuan berbahasa jawa yang jongkok dan
mata sipit seperti cici penjual emas.
yah, tak perlu lah itu dibahas. toh kemampuan berbahasa yang jongkok dan kesipitan mata saya tidak akan dimintai pertanggungjawaban. saya masihlah sama dengan anak perempuan sipit yang suka membuat cerita fantasi, saya juga masih sama dengan saya yang suka curhat tentang masalah orang lain dibuku harian saya sendiri. masih sama, hanya kini saya ingin disebut seorang penulis. Ya, meskipun belum menelorkan satu karya pun, saya ingin dikenal dengan sebutan itu. paling tidak itu saya tahu kalau saya ga bodoh-bodoh amat.
so, enjoy your self, jangan lupa saya sudah ingatkan kalian bahwa anda kesasar.
selamat membaca...
Kamis, 06 Juni 2013
Jakarta
Turun dari bis, tiga anak manusia
terlihat bingung mencari arah. Dimana angkot nomer 06? Setelah lama mencari
barulah yang dimaksud oleh sang navigator angkotnya nomer 16. Orang-orang pasti
mengira kami adalah bocah urban yang mencari peruntungan di tanah Batavia. Ya,
Jakarta. Sebagai ibu kota Negara, Jakarta adalah representasi dunia atas Indonesia.
Kecanggihan alat transportasi, angka kriminalitas, angka pengangguran, semua
merepresentasikan kondisi Indonesia.
Menurutku, hal
yang paling mengerikan di Jakarta adalah. GEDUNG. Entah karena aku orang udik
atau karena aku cantik, gedung-gedung tinggi menjulang diJakarta selalu
meresahkan hatiku. Bukan karena dia merebut suamiku, tapi karena keangkuhan dan
kesombongannya. Bagiku, gedung-gedung tinggi itu seakan berkata “disini kami
menguasai kehidupanmu 20 tahun kedepan!”. Jadilah aku ingat dengan serial drama
korea Boys Before Flower. Dulu, bagiku lelaki macam gu junpyo tidak mungkin ada
di dunia nyata, selain rambut permnya. Mana mungkin lelaki yang bisa bangun di
bali, makan siang di hawai dan tidur malam di menara Eiffel ada. Tapi nampaknya
gedung-gedung itu juga mengatakan “ada gu junpyo disini”. Kau bisa
membayangkan, tiap kali aku memandang gedung tinggi, ada wajah gujunpyo dengan
rambunya keritingnya. So annoying!.
Terlalu
tinggilah kalau kita membahas gedung tinggi, mari kita turun puluhan meter
dibawahnya. Gerobak-gerobak kayu beratapkan bendera partai banyak di parkir
didepan pertokoan. Bukan sampah yang mereka angkut, tapi perut yang lapar. Padahal
dibelahn daerah Indonesia yang lain belum selesai partai-partai itu bagi-bagi
motor. Setengah meter dari sana, berdiri rumah mewah segede alaihim. Didalamnya
ayah, ibu, dan anak bercengkrama tentang lokasi liburan selanjutnya setelah
konser super junior yang akan diadakan dua malam selanjutnya.
Huftt…
itulah Jakarta, itulah Indonesia. Pada siapa pemilik rumah gerobak itu akan
mengeluh jika satpol PP akhirnya menangkat mereka karena sangkaan merusak
pemandangan kota? Pemerintah mana yang harus mereka patuhi? Terkadang kita lupa
mencoba sudut pandang lain ketika berfikir, hanya karena kita tak pernah
menginderanya apakah itu bermakna ia tiada?
Jakarta
hanyalah sekian decimal persen dari korban bencana kapitalisme yang sedang
melanda dunia. Ia tak bisa diselamatkan oleh supermen apalagi yang bocah kayak
astroboy. Dunia butuh Naruto. Lho? Maksud saya dunia butuh perbaikan. Yang
perlu kita sadari bencana kapitalisme ini tidak hanya menyerang Indonesia,
apalagi Jakarta. Negara-negara timur tengah yang kaya akan minyak bisa dibawah
kediktatoran, kaum muslimin terus dibantai, orang miskin amerika terus menerus meningkat,
wall street nyaris lumpuh, system hukum yang tajam ke bawah tumpul ke atas.
Inilah rangkaian
hari pertama dengan rute bandara-kalibata-bidara
cina-istiqlal-monas-istiqlal-bidara cina. Hari kedua adalah jawaban dari
episode suram diatas. Makanya tunggu episode selanjutnya.
Catatan jempol:
1. Konoha
kena bencana kapitalisme juga ga ya?
2. Episode
suram ini sudah terjadi lebih dari 90 tahun, sudahlah lelah dunia membopong
demokrasi yang segitu mahalnya. Mari buka literature berapa banyak dana yang
sudah dikeluarkan Indonesia untuk demokrasi. Kata
ustad Abay, demokrasi tidak boleh disamakan dengan sampah, karena sampah masih
bisa di daur ulang, sedangkan demokrasi harus dimusnahkan dan dihilangkan,
hingga debu-debunyapun tak kita hirup
3. Ini kisah pra keberangkatan Baru saja naik ke
travel aku kaget mendengar kabar kalau seorang ustad kondang akan naik travel
yang sama dengan aku dan kawan-kawan. Katanya namanya ustad Yusuf Mansyur,
kontan saja aku langsung nanya “ boleh minta tanda tangan ga ya?”. namanya juga anak kampung, aku heboh aku
waktu tau akan bertemu langsung dengan orang yang suka tampil di tivi,
jangankan ustad Yusuf Mansyur, kalau ada pencuri ayam di dekat rumah yang
ketangkap polisi terus masuk tivi aku pasti datang ke rumahnya nitip tanda
tangan. Tapi, ya sudah lah ya. Toh ternyata yang aku temui bukan ustad Yusuf
Mansyur tapi seroang bapak yang memang namanya Yusuf Mansyur, aku dan kawan
hanya bisa saling pandang. Jadilah perjalanan aku habiskan dengan tidur sambil
menahan sesuatu agar tidak keluar dari perut.
Rabu, 05 Juni 2013
Khilafah buat semua
Seorang teman
pernah menuliskan dalam salah satu jendela sosmed tentang kekecewaannya pada
kondisi yang memaksa dia untuk tidak melaksanakan ibadahnya, karena mayoritas
berkehendak hari itu digunakan untuk ujian. Ia berkomentar cukup tegas dengan
mengatakan ia mengorbankan hari ibadahnya demi mayoritas bahkan ia mengatakan
ia tidak heran jika kaum muslimin di belahan dunia lain diperlakukan
semena-mena karena iapun merasakan hal yang serupa di negeri ini. Jelas, yang
ia maksud dengan mayoritas adalah Islam yang memang mayoritas di negeri ini.
Saya sangat mengerti apa yang ia maksudkan. Saya paham, bahkan saya merasakan
apa yang dia rasakan.
Jika dikatakan
minoritas pastilah mengikuti mayoritas, maka sebenarnya hal itu tidak bisa dikatakan
benar secara keseluruhan. Sebagai seorang muslim, selama ini sayapun merasa
tidak bisa melaksanakan Islam sesuai dengan aturan ibadah yang ditetapkan dalam
Islam. Bahkan untuk sekedar sholat, hak itu pun sering kali tidak diindahkan di
republik ini. Dalam sistem pendidikan sekuler seperti sekarang, kadang kala
waktu kuliah berbarengan dengan waktu sholat sehingga memaksa mahasiswa muslim
untuk sholat di akhir-akhir waktu. Bahkan tidak jarang, ada situasi yang
memaksa mahasiswa muslim meninggalkan sholatnya misalnya pada saat ospek
universitas. Dari sinilah saya berpikiran bahwa saya dan kawan saya ini berada
pada posisi yang sama. Sama-sama tidak mendapatkan hak masing-masing, apapun agama kita baik minoritas ataupun mayoritas. Oleh
karena itu, mungkin yang harus diluruskan disini, bukanlah Islam yang membuat
kawan saya ini tidak dapat melaksanakan ibadahnya dengan leluasa hanya karena
pelaku pembuat kebijakan adalah seorang muslim, sama sekali bukan. Sebab Allah secara
jelas menyatakan dalam Al-quran “lakum diinukum wal yadiin” bagimu agamamu,
bagiku agamaku. “laa iqraha fiddin” tidak ada paksaan dalam agama.
Jika kita
menilik sirah (perjalanan hidup) Rasulullah, sangat jelas bahwa Islam sangat
menghargai perbedaan agama. Rasulullah SAW bersabda barang siapa menyakiti
orang kafir dzimmi, maka aku akan menjadi lawannya pada hari kiamat. Hadist
inilah yang menjadi hukum syara penjagaan harta dan kehormatan non muslim dalam
sistem khilafah. Sistem inipun telah terbukti selama berabad-abad
mensejahterakan manusia, baik kaum muslimin maupun umat agama lain. Spanyol
(Andalusia), yang dulu merupakan bekas bagian dari kekhilafahan adalah kota
dengan julukan the land with 3 religion.
Kristen, yahudi dan islam hidup dibawah payung yang sama yaitu khilafah
islamiyah. Masing-masing orang, apapun latar belakang agamanya, akan
mendapatkan hak yang sama sebagai warga Negara. Jika kaum muslimin diwajibkan
untuk menuntut ilmu, maka bagi agama lain menuntut ilmu adalah hak bagi mereka
sebagai warga Negara. Jika dalam keadaan perang kaum muslimin diwajibkan untuk
berjihad mengangkat senjata, maka bagi agama lain darah mereka dijamin
penjagaannya oleh Negara. Jika begini adanya, di mana posisi islam sebagai
agama yang pilih kasih?
Yang perlu
kita sadari bencana kapitalisme bukan hanya menyerang kaum muslimin saja tapi
juga umat agama lain yang juga direnggut hak-haknya. Republik Demokratis Kongo
merupakan negeri mayoritas nasrani yang juga termasuk negeri miskin dengan PDB
perkapita hanya $348 (data tahun 2011). Bahkan secara umum, benua afrika di
huni oleh baik muslim maupun non muslim yang kedua-duanya mengalami kemiskinan
dan penderitaan yang sama.
Maka benar
kata Hj. Irene Handono bahwa perjuangan untuk khilafah berarti perjuangan untuk
berbagai suku bangsa, warna kulit dan tentu saja berbagai agama, berjuang untuk
umat manusia di seluruh dunia. Khilafah adalah sistem yang menjadi janji Allah
bagi kaum muslimin, menjadi kebutuhan bagi kaum muslimin sekaligus bagi umat
agama lain. Ustad felix Siaw pernah mengatakan tidak layak bagi seorang muslim
mempertanyakan benar tidaknya janji Allah akan terjadi, benar tidaknya Islam
akan tegak kembali, atau benar tidaknya Khilafah akan tegak lagi, sebab
pertanyaan ini hanya layak untuk diajukan oleh kaum non muslim yang memang
tidak mempercayai Allah sebagai Tuhannya. Kaum muslimin? Setiap hari kaum
muslimin mengucapkan dua kalimat syahadat di setiap sholatnya. Apakah pantas
dzat yang tiap pagi dan sore hari kita kuduskan namanya tidak kita percayai
perkataan dan tuntunannya?
Senin, 27 Mei 2013
Generasi Emas dari Rahim Wanita
Suatu peradaban lahir
sebagai produk sebuah ideologi atau paham yang diadopsi oleh masyarakat pada
zamannya. Ideologi ini yang akan membentuk pola pikir dan pola sikap masyarakat
sekaligus menjamin seberapa jauh peradaban itu akan bangkit dan eksis.
Peradaban yang maju ditandai dengan berbagai macam faktor, baik dari sisi
ekonomi, perkembangan teknologi informasi, kemajuan sektor pertanian dan dari
sisi kata dasar peradaban itu sendiri yaitu “adab” yakni dengan menilai seberadab
apa masyarakat yang hidup di era itu.
Dunia
telah melalui berbagai peradaban, entah itu sebentar saja atau hingga
berabad-abad lamanya dengan segala keunggulan dan keterbelakangannya. Tentu
kita mengenal peradaban yunani kuno, peradaban mesir kuno, peradaban Persia,
dan tentu saja peradaban Islam yang berdiri di atas ideologi Islam. Islam
sebagai agama yang sempurna dan paripurna telah hadir sebagai paham yang mampu
mengakomodir kebutuhan jasmani dan naluri manusia. Kesempuranaan Islam mampu
melahirkan sebuah peradaban keemasan yang unggul dalam segala bidang, baik dari
sisi ekonomi, perkembangan ilmu pengetahuan teknologi, kemajuan sektor
pertanian dan pengolahan sumber daya alam, dan pada waktu yang sama keberadaban
manusia dapat dibangkitkan oleh Islam dengan
melahirkan faqih fiddin yang menguasi ilmu agama.
Jika
ditanyakan, siapakah yang ada dibalik keberhasilan Islam dalam mendidik
anak-anak muslim untuk menjadi generasi emas? Dalam Islam pendidikan selalu
dimulai dari unit terkecil dalam sebuah masyarakat yaitu keluarga. Keluarga
merupakan lingkungan pertama yang akan menjadi tempat calon pemimpin tumbuh dan
berkembang. Dalam hal ini, sosok yang berperan besar adalah ibu atau wanita.
Tidak ada peradaban di era manapun yang memposisikan wanita semulia dan
seterhormat Islam. Kemuliaan wanita di jamin dengan posisi terbaik yang tidak
hanya diharapkan di dunia tetapi juga di akhirat. Peran wanita yang utama
adalah sebagai ummu wa rabbatul bait,
ibu dan pengatur rumah tangga. Di mata para feminis dan genderis, peran itu terdengar
kampungan dan tidak elit, seakan-akan bahasa pengatur rumah tangga sama dengan
babu atau pekerja kasar yang aktivitasanya hanya berhubungan dengan kasur,
dapur, dan sumur. Wajar jika barat mengopinikan hal macam itu, sebab barat,
semaju apapun peradaban yang pernah mereka rasakan tidak pernah mampu
memposisikan wanita pada tempat yang ideal yang mampu memuaskan wanita,
sedangkan Islam menjanjikan wanita singgasana terbaik jika ia mampu mendidik
keluarganya dan mengantarkan mereka pada kebahagiaan hakiki.
Wanita
di dalam Islam bukanlah seperti yang diopinikan oleh kaum feminis itu, dimana
dikatakan penuh dengan kebodohan dan penindasan. Didalam Islam, wanita
diwajibkan untuk pandai dan berilmu, sebab bagaimana bisa ia mendidik calon
pemimpin jika ia tidak berilmu. Anak-anaknya merupakan murid yang harus mampu
ia giring pada kebaikan dan tentu saja keberadaban, hingga mereka nantinya akan
lahir sebagai pribadi beriman, taat hanya kepada Allah, kuat pendiriannya,
pandai bergaul, cerdas, dan mempunyai kepedulian pada masyarakat. Inilah
generasi-generasi unggul yang siap memimpin bangkitnya peradaban gemilang
Islam.
Serangan ideologi
sekuler yang sedang membangun peradabannya saat ini telah meluluhlantakkan unit
keluarga. Masyarakat yang semakin terjauhkan dengan Islam berpandangan bahwa
wanita yang sukses adalah wanita yang mampu bekerja membantu keluarga dalam
mendapatkan penghasilan dan kehidupan yang ideal dari sisi keuangan. Peran
wanita di ranah publik seakan menjadi fardlu
yang akan mampu mengangkat derajat kehormatan keluarga di mata masyarakat.
Islam tidak pernah
membatasi profesi yang akan digeluti oleh wanita baik dalam bidang
kewirausahaan dan kelimuan. Toh kita melihat ummul mukminin Khadijah adalah seorang pedagang ternama dengan
aktivitas marketing yang sangat padat namun kita temui pula anak-anak beliau
menjadi pejuang-pejuang Islam yang namanya harum ditengah-tengah kaum muslimin.
Kitapun mengenal Maryam al Asturlabi, seorang wanita yang hidup pada masa
kekhilafahan bani umayyah, mampu menelurkan penemuan besar yang menjadi bakal
perkembangan teknologi abad 21 ini, namun ia pun wanita sholihah yang patuh
pada rambu-rambu syariah.
Herannya, umat saat ini
masih berkaca pada imperium barat yang bahkan hanya bisa berdiri diatas
kaki-kaki negeri-negeri muslim. Pasak-pasar yang mereka tanam sudah mulai
tumbang dan akan segera tercerabut. Umat masih berkaca pada ide persamaan
gender yang disuarakan para feminis yang mereka sendiri lahir dari keluarga broken home dan hidup dengan disorientasi
seksual. Tak pernah ada bukti ide gender berhasil menyelesaikan permasalahan
perempuan, yang terjadi justru sebaliknya. Ide gender melemparkan wanita
ditempat terendah sebagai mesin pencetak uang dan tiang-tiang ekonomi dunia.
Allah
adalah sebaik-baik pemelihara, Ia menjelaskan rambu-rambu manusia dengan penuh
kasih sayang dan kepedulian. Tak tega sesungguhnya Ia melepaskan manusia dengan
akal terbatas yang mereka miliki. Oleh karenanya, Allah meletakkan cahaya
ditiap jalan agar manusia mampu melihatnya dan mengikuti arahnya. Peran
wanitapun demikian, pilihannyalah apakah ingin mulia dengan Islam atau hina
tanpanya. Dengan patuh pada aturanNya, niscaya generasi emas akan lahir dari
rahim-rahim wanita kaum muslimin. Wallahu a’lam
Kamis, 18 April 2013
Kelas
Remuk rasanya badan pagi itu, alhamdulillahnya aku jenis
manusia yang bisa tidur dimanapun dalam kondisi apapun, termasuk di dalam
kolong tempat tidur Rumah sakit. Meski terantuk besi ranjang berkali-kali, toh
aku bisa balik lagi ke mimpiku (imagine! I can still dreaming). Ada sekitar 12
ranjang dalam ruangan 10x 3 m dengan dua kipas angina yang menyala sepanjang
malam. Inilah yang disebut dengan kelas!
Sejauh yang ku baca, kelas social lahir di dunia
kapitalistik dimana perbedaan merupakan hal yang sangat nyata. Tak dapat
dihindarkan. Kulit adalah perbedaan, warna mata, tebal dompet, luas halaman
rumah, gelar, merk sepatu, jenis gatget, semua adalah perbedaan. Untuk menegaskanya,
digunakanlah kelas. Singkatnya, karena kita berbeda, kita perlu pengelompokkan
agar semua orang mendapatkan hak sesuai dengan perbedaan itu.
Lebih parahnya di Negara-negara eropa denga mayoritas
bermata biru, maka secara otomatis kelaspun akan dibagi berdasarkan warna mata.
Ibaratnya nih, kalo ada dua manusia datang ke rumah sakit dengan kondisi yang
sama gawatnya, pihak RS akan memanggil “bapak yang warna matanya biru silakan
masuk”. Yang warna matanya tidak biru hanya bisa membatin “salah siapa? Salah gue?
Salah temen-temen gue, kalo mat ague ga biru?” (Ala AADC) selanjutnya scene
dilanjutkan dengan pembacaan puisi “ku lari kehutan kemudian teriakku, benci
sendiri…”
Benar pertanyaan lelaki-tidak-bermata-biru tadi, salah siapa
kalau mata dia tidak biru. Jelas bukan salah dia, apalagi teman-teman dia. Sejatinya
teori macam ini tidak semestinya terjadi, jika akal kita masih normal, atau
paling tidak kita masih mau mikir. Apa yang membuat orang bermata biru lebih
terhormat disbanding mataku yang cokelat dan sipit. Toh, kita tidak akan di
hisab atas warna mata kita nantinya.
Diskriminasi kelas terjadi pada masa pra revolusi perancis,
namanya budak sama juragan, jongos sama yang dijongosi jelas posisinya. Dan jelas
ini tidak mendatangkan kedamaian karena aka nada terus menerus benturan antar
dua kelas itu. Pasca revolusi perancis, harapan orang-orang seperti lelaki-tidak-bermata-biru
pupus hanya tinggal harapan. Taka da perbedaan, keadilan yang diusung selama
masa revolusi terdistorsi hingga kehilangan makna. lelaki-tidak-bermata-biru
tetap menjadi jongos dan juragannya tetap mereka yang bermata biru.
Itulah kapitalisme. Bukan sok keren, makanya bahas
kapitalisme. Hanya saja, kejadian lelaki-tidak-bermata-biru biru tadi ada 100
meter dari kontrakan saya. Bisa jadi itu juga ada bukan 100 meter dari rumahmu,
tapi tepat dibawah hidungmu. Tidak lama lagi, hanya kaum borjuis yang bisa naik
angkot. Orang Indonesia setara lelaki-tidak-bermata-biru paling banter hanya
bisa jadi supir atau kenek angkot, Karena minyak kita dimiliki para kapitalis.
Balik ke TKP di RS tadi, baliho depan RS tentang pelayanan prima sebenarnya diikuti tanda bintang *kalau duit anda tebal yang ditulis dengan ukuran font 9. Jadi pertanyaannya, kenapa harus ada kelas social kalau ada yang namanya keadilan social?Pletak! Aku di jitak. Katanya “jangan singgung2 tentang pancasila, ntar di tuduh tidak pancasilais”. Lalu aku hanya bisa diam. Menunggu sampai ia pergi, lalu kembali berkoar-koar
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)

