Kebobrokan HAM dan demokrasi
Suatu
hari ditengah hiruk pikuk kota besar
yang penuh dengan kesibukan, saya duduk didalam angkot dengan sangat
gelisah. Udara yang begitu panas serta kondisi didalam angkot yang
berdesak-desakkan membuat saya gerah, ditambah seoarng wanita dihadapan saya
yang duduk dengan mengenakan pakaian super mini. Bingung,saya mencari arah
untuk menghadapkan wajah. Saya menegur .
“maaf mba, apakah mba muslim?” ia mengangguk,
“tapi pakaian mba tidak seperti seorang muslimah?” ia
melotot dan menatap saya tajam.
“ada urusan apa anda mengomentari pakaian saya?” ia membalas dengan suara tinggi.
Saya terkesiap,mencoba tenang. “tapi pakaian mba tidak
cukup sopan untuk digunakan didepan umum”.
“lho, ini hak saya untuk mengenakan pakaian apapun”.
”dan ini juga hak saya untuk bisa mendapatkan pemandangan
yang lebih nyaman” . perdebatan berakhir, wanita itu turun dari angkot.
Nah, siapa yang salah? Si wanita atau
si lelaki? Jika konsep HAM barat yang kita gunakan, maka tidak satupun yang
akan menemukan jawabannya. Sebab, kejadian diatas merupakan hasil dari teori
HAM yang diusung oleh Barat dengan Amerika sebagai maskotnya. Dengan sangat cantik, Amerika menyebarkan
teori HAM dan demokrasi dalam banyak kuliah-kuliah tamu yang dibawa oleh
antek-anteknya. Seakan-akan menolak HAM
berarti menolak terwujudnya perdamaian dunia, mendukung penindasan dan
ketidakadilan atau tidak menghormati hak manusia. Namun HAM seperti apa yang
hendak menjaga perdamaian dunia, hal itulah yang perlu dikritisi.
Sekilas, HAM dapat dipandang sebagai ide
yang luar biasa mulia. Namun, “kemuliaan”itu seketika sirna ketika HAM yang kali ini diusut membawa
nama Islam. “Kalau ada bentrok antara Ustadz dengan Pastur, pihak Depag,
Polsek, dan Danramil maka yang harus disalahkan adalah Ustadz. Sebab, kalau tidak,
itu namanya diktator mayoritas. Kalau mayoritas kalah, itu memang sudah
seharusnya, asalkan mayoritasnya Islam dan minoritasnya Kristen. Namun, kalau
mayoritasnya Kristen dan minoritasnya Islam, Islam yang harus kalah. Baru wajar
namanya…” seperti itulah seorang budayawan mengkritisi ketidakadilan penerapan
HAM.
HAM (Hak Asasi Manusia) merupakan
paham yang secara teori, terlebih secara praktis telah cacat sejak lahir. Secara
historis, HAM lahir dari berbagai kasus penindasan dan perbudakan yang kemudian
melahirkan pemberontakan untuk menuntut kebebasan. Dari sinilah muncul ide
bahwa manusia terlahir sebagai sebuah pribadi yang bebas dimana pada dirinya
melekat hak-hak yang harus terjamin pemenuhannya bahkan oleh Negara. Hal ini
kemudian memunculkan kebebasan-kebebasan lain seperti, berpikir,
berkepemilikan, dan bertingkah laku yang masing-masing kebebasan ini mempunyai
batasan yang samara tau bahkan tidak mempunyai batasan sama sekali. Alhasil,
kemungkinan hak individu satu bertentangan dengan hak individu lain menjadi hal
yang pasti.
HAM tidaklah dapat dipisahkan dari ide
dasar yang menaunginya yakni sekulerisme yang dewasa ini, disuarakan dengan
sangat manis menggunakan istilah sistem demokrasi. Sistem busuk yang sebenarnya
adalah kuliat luar dari sebuah ideology yang tidak kalah busuknya mengusung
kedaulatan ditangan rakyat. Faktanya, kedaulatan berada ditangan uang dan para
pemilik modal. Dari skala kecil, seperti “orang miskin dilarang sakit” atau
“orang miskin dilarang sekolah” sampai pembunuhan rakyat pribumi di PT Freeport
yang sampai sekarang masih tidak tersentuh hukum.
Sir Winston
Churchill (PM Inggris pada masa PD-II) pernah mengatakan, “Demokrasi bukanlah sistem yang baik; dia menyimpan kesalahan dalam
dirinya (built-in-error)”. Maka jika sistem cacat
ini saja telah ditolak oleh para pengusung idenya, apa yang kita lakukan dengan
terus menyemai ide ini dengan taruhan darah kaum muslimin dipalestina,
afganistan, dan negeri-negeri muslim yang lain?. Allah telah menjanjikan sebuah
sistem super sempurna yang dari sanalah perdamaian dunia terwujud, hak setiap
hamba terjamin,serta Ridho Allah dalam genggaman. Allah berfirman, “Apa hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki? Hukum
siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” [QS Al-Maidah: 50]
Wallahu A’lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar