Selamat datang diblo saya

Jumat, 23 Desember 2011

Kebobrokan HAM dan demokrasi

Kebobrokan HAM dan demokrasi
                Suatu hari ditengah hiruk pikuk kota besar  yang penuh dengan kesibukan, saya duduk didalam angkot dengan sangat gelisah. Udara yang begitu panas serta kondisi didalam angkot yang berdesak-desakkan membuat saya gerah, ditambah seoarng wanita dihadapan saya yang duduk dengan mengenakan pakaian super mini. Bingung,saya mencari arah untuk menghadapkan wajah. Saya menegur .
“maaf mba, apakah mba muslim?” ia mengangguk,
“tapi pakaian mba tidak seperti seorang muslimah?” ia melotot dan menatap saya tajam.
“ada urusan apa anda mengomentari pakaian saya?”  ia membalas dengan suara tinggi.
Saya terkesiap,mencoba tenang. “tapi pakaian mba tidak cukup sopan untuk digunakan didepan umum”.
“lho, ini hak saya untuk mengenakan pakaian apapun”.
”dan ini juga hak saya untuk bisa mendapatkan pemandangan yang lebih nyaman” . perdebatan berakhir, wanita itu turun dari angkot.
Nah, siapa yang salah? Si wanita atau si lelaki? Jika konsep HAM barat yang kita gunakan, maka tidak satupun yang akan menemukan jawabannya. Sebab, kejadian diatas merupakan hasil dari teori HAM yang diusung oleh Barat dengan Amerika sebagai maskotnya.  Dengan sangat cantik, Amerika menyebarkan teori HAM dan demokrasi dalam banyak kuliah-kuliah tamu yang dibawa oleh antek-anteknya.  Seakan-akan menolak HAM berarti menolak terwujudnya perdamaian dunia, mendukung penindasan dan ketidakadilan atau tidak menghormati hak manusia. Namun HAM seperti apa yang hendak menjaga perdamaian dunia, hal itulah yang perlu dikritisi.
Sekilas, HAM dapat dipandang sebagai ide yang luar biasa mulia. Namun, “kemuliaan”itu seketika  sirna ketika HAM yang kali ini diusut membawa nama Islam. “Kalau ada bentrok antara Ustadz dengan Pastur, pihak Depag, Polsek, dan Danramil maka yang harus disalahkan adalah Ustadz. Sebab, kalau tidak, itu namanya diktator mayoritas. Kalau mayoritas kalah, itu memang sudah seharusnya, asalkan mayoritasnya Islam dan minoritasnya Kristen. Namun, kalau mayoritasnya Kristen dan minoritasnya Islam, Islam yang harus kalah. Baru wajar namanya…” seperti itulah seorang budayawan mengkritisi ketidakadilan penerapan HAM.
HAM (Hak Asasi Manusia) merupakan paham yang secara teori, terlebih secara praktis telah cacat sejak lahir. Secara historis, HAM lahir dari berbagai kasus penindasan dan perbudakan yang kemudian melahirkan pemberontakan untuk menuntut kebebasan. Dari sinilah muncul ide bahwa manusia terlahir sebagai sebuah pribadi yang bebas dimana pada dirinya melekat hak-hak yang harus terjamin pemenuhannya bahkan oleh Negara. Hal ini kemudian memunculkan kebebasan-kebebasan lain seperti, berpikir, berkepemilikan, dan bertingkah laku yang masing-masing kebebasan ini mempunyai batasan yang samara tau bahkan tidak mempunyai batasan sama sekali. Alhasil, kemungkinan hak individu satu bertentangan dengan hak individu lain menjadi hal yang pasti.
HAM tidaklah dapat dipisahkan dari ide dasar yang menaunginya yakni sekulerisme yang dewasa ini, disuarakan dengan sangat manis menggunakan istilah sistem demokrasi. Sistem busuk yang sebenarnya adalah kuliat luar dari sebuah ideology yang tidak kalah busuknya mengusung kedaulatan ditangan rakyat. Faktanya, kedaulatan berada ditangan uang dan para pemilik modal. Dari skala kecil, seperti “orang miskin dilarang sakit” atau “orang miskin dilarang sekolah” sampai pembunuhan rakyat pribumi di PT Freeport yang sampai sekarang masih tidak tersentuh hukum.
Sir Winston Churchill (PM Inggris pada masa PD-II) pernah mengatakan, “Demokrasi bukanlah sistem yang baik; dia menyimpan kesalahan dalam dirinya (built-in-error)”. Maka jika sistem cacat ini saja telah ditolak oleh para pengusung idenya, apa yang kita lakukan dengan terus menyemai ide ini dengan taruhan darah kaum muslimin dipalestina, afganistan, dan negeri-negeri muslim yang lain?. Allah telah menjanjikan sebuah sistem super sempurna yang dari sanalah perdamaian dunia terwujud, hak setiap hamba terjamin,serta Ridho Allah dalam genggaman.  Allah berfirman, Apa hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki? Hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?”  [QS Al-Maidah: 50]
Wallahu A’lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar