Pagi tadi saya bertemu dengan bapak penjaga kos yang saat itu sedang
berjaga diPOS. Dengan sumringah ia menyapa saya yang sudah 5 bulanan
pindah ke kontrakan. Beliau berteriak memanggil saya yang sedang
menunggu dilapu merah.
“mau kemana?”
“mau ikut itu, Pak!” kata saya sambil menunjuk kerumunan orang yang sedang bersiap mengatur barisan.
“Kamu mau ikut demo?”
“hehe… iya Pak” kata saya cengengesan.
“wahh… mau jadi aktivis ya?”
“saya
memang aktivis, Pak!” kata saya PD ditengah-tengah penunggu lampu
merah. Bapak kos saya tersenyum sumringah sambil menganggukkan kepala.
Saya jadi rindu dengan kosan lama.
Barisan berjalan, saya
menyusul dibelakang dengan motor mio membantu saya sebagai tim
kesehatan. Sampai sekarangpun rasanya jari-jari saya seakan akan
menempel pada keyboard dan terlepas dari tangan.
Jika dibandingkan
dengan dikendari, massa aksi ini tidaklah banyak. Tapi cukup panjang
untuk membuat kemacetan dibeberapa ruas jalan yang memang sempit. Aksi
mengenai penolakan harga BBM ini seharusnya merupakan aksi dengan isu
paling merakyat dewasa ini. Siapa yang tidak membutuhkan minyak tanah
dan bensin. Bahkan ketika sudah punya motor saya baru sadar betapa para
tukang ojek harus beripikir serius dalam menetapkan ongkos angkutnya,
para tukang sayur terhadap dagangannya, dan para pengusaha terhadap
produksinya. Namun, Tidak semua orang terganggu dengan kenaikan BBM
rupanya. Di perempatan BCA, barisan sempat berhenti lama sehingga
pengguna jalan harus sejenak menghentikan kendaraan mereka dilampu
merah. Apa yang mau saya sampaikan disini adalah, puluhan motor yang
membunyikan klakson mereka meminta jalan segera terbuka bagi mereka.
Lama, klakson-klakson mobil dan motor terus berbunyi seakan-akan apa
yang kami teriakan tidak mereka rasakan. Pertanyaannya
Apakah kenaikan harga BBM hanya terjadi pada peserta aksi?
Tidak,
kecuali jika para pengguna jalan adalah pemilik exon mobile dan
Freeport, atau mereka anggota DPR, atau mereka kacung-kacung asing yang
mngontrol peng-gol-an undang-undang pro liberal. Atau…. Mereka anda?
Yang bukan siapa-siapa, hanya orang-orang yang tidak peduli dengan
pernyataan harap dari mereka yang mungkin kita anggap bodoh. Padahal
kalian bisa jadi mahasiswa, dosen, cendekia, saintis, insinyur. Atau itu
hanya title yang kalian dapat karena sempat bersekolah?
Klakson anda, menunjukkan siapa anda. Pastikan bunyi klakson anda diberikan pada orang yang tepat!
Pasca Aksi:
“ngambil motor ya, mba?”
“iya, pak…”
“kuliah dimana, mba?”
“DiBrawijaya, Pak…”
“ooo…..
kalo dah kerja jangan jadi koruptor ya mba, Negara ini udah kacau,
jangan lagi ditambahi koruptor. Hehe…” saya speechless sambil tersenyum
dan menggaruk-garuk kepala, kawan saya sibuk mengambil motornya.
Pak parkir, saya ga akan jadi koruptor kok, karena waktu saya udah kerja, Khilafah sudah tegak. Allahu Akbar…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar