Sore hari yang mendung, kemarin, ketika aku tergesa-gesa mendatangi majelis ilmu dengan pakaian beraroma tongkol, pasca membungkusi makanan untuk berbuka. sebagai pengangguran baru, tenagaku banyak membantu. mengapa begitu tergesa-gesa? bukan apa-apa, hanya merasa rugi ketika setiap penjelasan pemateri tidak bisa dicerna oleh otak pra pentiumku ini.
pemateri hari itu adalah Ust Hafidz Abdurrahman. setelah 30 menit duduk dalam forum, aku bergumam, tak salah aku berusaha cepat untuk sampai di TKP. materi yang dibawakan bukanlah hal baru untuk ku ketahui. perjalanan Rasulullah serta fase dakwah yang beliau lalui sudah menjadi kisah populer di memori otakku. tapi, penjelasan dari sisi yang berbeda, membuat hal lama yang telah diketahui menjadi baru dan segar untuk diceritakan. satu lagi, entah bagaimana menejemen neuron otak beliau dengan bisa sangat cepat menemukan kitab rujukan beserta pengarangnya. apa aku harus banyak-banyak makan pegagan?
pukul 9 malam, sesi dua dibuka. kelelahan saat siang membuat mataku merem melek, sementara otakku mati-menyala.
Iman adalah hal yang sirat, kadang tak sadar seseorang hingga imannya tiba-tiba hilang dan bahkan dia tak pernah sadar akan keberadaan imannya. inilah kebodohan. lantas apa yang membuat kebodohan macam ini terus ada?
pernah merasa sudah beramal maksimal?
pernah merasa cukup dengan segala ibadah?
hati-hati, karena setan sedang menggerogoti iman kita. banyak orang yang sibuk mencibir, membahas keburukan orang sana sini, sedangkan dirinya sendiri berakhir menyedihkan tak pernah bangkit. terlalu ramai menciderai lisannya sendiri. apa yang sedang ia cari? pengakuan? Ya, pengakuan bahwa dia bagian dari orang-orang "gampangan".
ada pula orang dengan dalil diatas, memilih diam. katanya karena diam itu emas. tak pernah sekalipun emas jatuh ketika aku diam. entah dari mana pepatah itu. bodoh itu kayak tong kosong, bicara saja tak mau mendengar. pengecut itu kayak TV rusak, tak ada bunyi padahal ilmuny segudang. pilih yang mana? menjadi bodoh atau pengecut?
Ya, itu bukan satu-satunya pilihan. kau bisa pilih menjadi manusia. bersedia mendengar dan berusaha menyampaikan. bukan hal yang aneh bukan, jika seseorang ingin menceritakan kisahnya? sebab manusia memang seperti itu. maka jagalah lisan dan abadikan yang kita dengar dengan tulisan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar