Selamat datang diblo saya

Senin, 05 Agustus 2013

Yang menggerogoti Iman

Sore hari yang mendung, kemarin, ketika aku tergesa-gesa mendatangi majelis ilmu dengan pakaian beraroma tongkol, pasca membungkusi makanan untuk berbuka. sebagai pengangguran baru, tenagaku banyak membantu. mengapa begitu tergesa-gesa? bukan apa-apa, hanya merasa rugi ketika setiap penjelasan pemateri tidak bisa dicerna oleh otak pra pentiumku ini.

pemateri hari itu adalah Ust Hafidz Abdurrahman. setelah 30 menit duduk dalam forum, aku bergumam, tak salah aku berusaha cepat untuk sampai di TKP. materi yang dibawakan bukanlah hal baru untuk ku ketahui. perjalanan Rasulullah serta fase dakwah yang beliau lalui sudah menjadi kisah populer di memori otakku. tapi, penjelasan dari sisi yang berbeda, membuat hal lama yang telah diketahui menjadi baru dan segar untuk diceritakan. satu lagi, entah bagaimana menejemen neuron otak beliau dengan bisa sangat cepat menemukan kitab rujukan beserta pengarangnya. apa aku harus banyak-banyak makan pegagan?

pukul 9 malam, sesi dua dibuka. kelelahan saat siang membuat mataku merem melek, sementara otakku mati-menyala.
Iman adalah hal yang sirat, kadang tak sadar seseorang hingga imannya tiba-tiba hilang dan bahkan dia tak pernah sadar akan keberadaan imannya. inilah kebodohan. lantas apa yang membuat kebodohan macam ini terus ada?
pernah merasa sudah beramal maksimal?
pernah merasa cukup dengan segala ibadah?
hati-hati, karena setan sedang menggerogoti iman kita. banyak orang yang sibuk mencibir, membahas keburukan orang sana sini, sedangkan dirinya sendiri berakhir menyedihkan tak pernah bangkit. terlalu ramai menciderai lisannya sendiri. apa yang sedang ia cari? pengakuan? Ya, pengakuan bahwa dia bagian dari orang-orang "gampangan".

ada pula orang dengan dalil diatas, memilih diam. katanya karena diam itu emas. tak pernah sekalipun emas jatuh ketika aku diam. entah dari mana pepatah itu. bodoh itu kayak tong kosong, bicara saja tak mau mendengar. pengecut itu kayak TV rusak, tak ada bunyi padahal ilmuny segudang. pilih yang mana? menjadi bodoh atau pengecut?
Ya, itu bukan satu-satunya pilihan. kau bisa pilih menjadi manusia. bersedia mendengar dan berusaha menyampaikan. bukan hal yang aneh bukan, jika seseorang ingin menceritakan kisahnya? sebab manusia memang seperti itu. maka jagalah lisan dan abadikan yang kita dengar dengan tulisan.

Sabtu, 03 Agustus 2013

Mimpi

aku termasuk orang yang jarang bermimpi dalam arti denotatif. tidur yang sangat pulas membuatku sulit terbangun meskpun gempa terjadi. Apa daya? itu diluar kuasaku..
beda lagi kalau kita berbicara tentang mimpi dalam arti konotatif. sudah banyak buku dan film yang aku konsumsi dengan genre pembangkit semangat dan pengejar mimpi. tapi ku pikir, film dan buku yang telah aku konsumsi itu tidak benar-benar aku sadari maknanya hingga hari ini. tidak pernah aku benar-benar memikirkan akan jadi apa aku nanti. tidak pernah.

ini salah satu ciri-ciri golongan darah O, tidak gampang pusing. bisa juga disebut masa bodoh. bisa juga disebut malas mikir. alhasil, kebanyakan tindakanku mengikuti apa yang terdekat dan apa yang mudah. masuk ke Farmasi pun seperti itu, tapi berdasarkan kaidah apa yang terdekat bukan apa yang mudah. setelah yudisium kemarin ini aku baru rajin berfikir. habis ini ingin apa, setelah ini mau apa. wahh... aku benar-benar berfikir.

Jadi, ada beberapa hal yang akhirnya ingin aku tuliskan sekaligus ingin aku ikrarkan, semoga Allah mengiyakan dan mengabulkan:
1. tentang mimpi, bukan jadi rahasia lagi kalau aku sudah ikut serta dalam gerakan dakwah. satu-satunya keputusan yang aku anggap paling tepat dalam hidupku adalah ini, berada dalam barisan dakwah. Jadi, tak akan ada satupun yang akan menghalangi tetap berada dalam jamaah ini, kecuali Allah menarik keimanan dari dadaku atau mematikanku dalam syahid (aku merasa keren)
2. karena aku sudah sarjana, Farmasi pula. bukan pilihan lagi kalau aku harus mengembangkan ilmu pengetahuan yang sudah aku makan sejak 4 tahun lalu. cita-cita s2 ada. namanya juga mimpi ya, boleh tinggi dong. aku tidak takut gagal koq. salah satu ciri-ciri golongan darah O itu santai meskipun belum berhasil. yah.. itu urusan Allah lah. ada pilihan di ITB atau bahkan aku berencana mencari beasiswa ke luar negeri. Namanya juga cita-cita (lagi). untuk edisi ini, lain waktulah aku jelaskan.
3. Nah, yang ini jauh lebih menantang dari nomor-nomor sebelumnya. mulai hari ini, aku akan update blog setiap hari. SETIAP HARI. iya setiap hari. setiap hari? setiap hari ga ya? setiap hari lah yaa.. Iyaa!!!
4. ada satu keinginan yang sudah sejak lama aku pendam. hanya saja sebagai perempuan, Allah yang Maha sayang memberikan banyak batasan agar aku dijaga. Naik gunung. Ya aku ingin naik gunung. Rumahku yang berada di kota pinggir laut, membuatku terkagum-kagum tiap kali melihat gunung. sekali saja. Hanya sekali. aku ingin naik gunung semeru. kalau tidak boleh, sampai Ranu Kumbolo saja. untuk ini, aku harus minta mahramku untuk menemani. Ayahku tidak mungkin, karena beliau sudah tua, kakakku masih mungkin, tapi kayaknya dia pelit, kalau dia tidak mau, mau tidak mau aku harus tunggu mahramku selanjutnya dan memaksanya untuk menemani.

pernah aku lihat orang yang menuliskan 100 keinginannya yang katanya satu persatu dikabulkan Allah. sekarang ini aku baru mampu menuliskan 4 keinginan ini saja. kau tau kan golongan darah O tidak begitu mahir berpikir (apa aku saja?). ketika nanti aku berfikir dan ada yang ingin aku lakukan, tinggal aku tulis saja. dan kalian mendoakannya.

Senin, 29 Juli 2013

berpetualang

dilahirkan dalam keluarga berkecukupan, aku terbiasa hidup normal tanpa kesulitan. tak ada pasion, semua berjalan terlalu normal, tak ada yang istimewa. aku merasa duniaku datar-datar saja, seperti sinetron kejar tayang yang ratingnya rendah. Anteng!

ketika kerikil kecil menghalangi jalanku, orang-orang masih berjalan. tapi aku meringis kesakitan. seakan dunia begitu tak memihak padaku. bukan salahku lahir dari keluarga berkecukupan, bahkan itu hal yang pantas untuk ku syukuri.

namun aku juga mengharapkan petualangan kelas elit dengan mengais rezeki dari tumpukan koran, menjaga bunyi perut agar tak terdengar. bukankah itu yang akan ku ceritakan pada anak dan cucuku kelak? bahwa orang tuanya pernah berjuang untuk hidupnya, melalui masa sulit tanpa mengeluh, berhasil menyeberangi banjir cobaan meskipun seluruh hartanya hanyut tenggelam.


Jumat, 21 Juni 2013

Kisah Manusia

Jikalau dunia dibanjiiri kemaksiatan, akan selalu ada sosok pemberani yang menantang jaman. Pun jikalau bumi ramai dengan makian, akan selalu ada lisan yang basah menebarkan nasehat ke seluruh alam. begitulah dunia bekerja, begitulah Allah mengaturnya.

setetes air mata jatuh ke kerudung besarnya. ia adik yang penuh dengan keceriaan. siapa yang tau ia memiliki banyak ketakutan. terlihat ia berusaha merajut benang keberanian yang entah sejak kapan di gunting kekecewaan berbalut kesal. tak yakin dia akan menjadi sosok pemberani dan penebar nasehat, padahal begitu sering lisannya bertasbih begitu ingin suaranya mengumandang kebaikan.

dia punya kisah...

Manusia lahir dengan berbagai kisah, di tiap untai nafasnya ada cerita yang telah Allah rancang. Manusia adalah calon bintang yang sedang di casting untuk cerita besar yang lebih hebat lagi. sayangnya, tidak semua manusia mau menjadi pemerannya. banyak yang terlalu takut untuk gagal. alih-alih mereka mencari kisah lain yang tak punya makna tak berujung bahagia. mana manusia tahu apa yang menanti mereka.

Itulah dunia, kalau saja manusia ingin mengerti. biarkan Dia memacu adrenalinmu, menggagas semangatmu, menyambungkan jutaan neuron di otakmu. Untuk membuat kisah semakin indah, sehingga tak malu kita saat bioskop besar di tanah lapang ma'syar ditayangkan.

Ayah, ibu adalah bagian dari ceritaNya. mereka adalah cameo di kisahmu. kehadiran mereka adalah bumbu pelipur lara sekaligus tokoh antagonisnya. Kisahkan mereka dengan indah, dengan bulir-bulir air mata dipangkuan mereka atau genggaman tangan di jalan raya atau duduk bersila bersama di taman surga. kalaupun ia jauh berseberangan, Allah perintahkan tangannya tetap kita cium. Tapi Allah tetaplah yang utama, sebab Ayah kita adalah pegawaiNya. Syukuri semua skenarioNya, hingga kisah ini berakhir dan kita menjadi selebriti di surga.

Minggu, 09 Juni 2013

Berani di tampar

menurut saya, tidak ada yang lebih menyesalkan dari kehilangan hafalan dan kehilangan kebiasaan, dan kedua hal itu akan terjadi secara bersamaan ketika datangnya silkus wanita. Ya, hari libur wanita dari aktivitas ibadah mahdhoh. ketika liburnya telah berakhir, saya harus kerja keras lagi memunculkan kebiasaan yang sudah sebelumnya saya bangun. agak repot memang, tapi disitu juga tantangannya...

seminggu yang lalu, saya bertemu dengan seorang teman. sebenarnya dia bukanlah kawan jauh, kami dulu pernah satu halqah (pengajian), namun karena satu dua hal dia dipindahkan ke kelompok lain. lama tak bersua, dia membuat saya merasakan emosi yang berubah-ubah selama 2 jam durasi pertemuan kami. satu waktu dia memaksa saya terdiam sambil menitikkan air mata, diwaktu lain dia membuat saya tertawa terbahak sambil sesekali menyeringai miris dengan hal yang dia sampaikan. secara tidak langsung dia telah menguasai kemampuan komunikasi dasar yang diajakan dr Arif pada mata kuliah Ilmu Kesehatan Masyarakat. sungguh dakwah memang perlu keahlian itu..

huff... dia membuat saya terkejut dengan semua perubahannya, bisa di bilang dia berlari sudah sangat jauh. namun jangankan dirinya, segala cita-citanya pun sudah jelas tepat ada didepan matanya.
"aku tidak tertarik dengan matematika Ndang, jadi aku harus mencari hal lain yang aku sukai"
"aku ingin menjadi pembicara hebat, mengisi acara training, membuat event organizer, membuat ini ... itu"
banyak sekali yang telah jelas ingin ia raih.

beginilah rasanya terjungkal dari tempat duduk. beginilah cara Allah memberikan tamparan. sayangnya ada orang yang hanya perlu di  tampar sekali maka ia akan bangkit dari tidur panjang, ada pula yang perlu ditampar bolak balik agar ia mau sekedar memikirkan apa yang hendak ia raih. sayangnya lagi, aku yang nomer dua.


Maaf anda kesasar...

Sebuah catatan kehidupan, bukti bahwa raga ini pernah hidup, hujjah bahwa jiwa ini pernah bangkit, dan pemakluman bahwa aku hanyalah seorang manusia.
Selamat datang di blog saya, perkenalkan saya Endang Rahayu Tri Purwandhany, banyak orang yang menyangka bahwa saya orang jawa asli. tidak salah, karena kedua orang tua saya memang orang ciamis asli. hanya saja, identitas kejawaan saya sudah terdistorsi karena kemampuan berbahasa jawa yang jongkok dan
mata sipit seperti cici penjual emas.
yah, tak perlu lah itu dibahas. toh kemampuan berbahasa yang jongkok dan kesipitan mata saya tidak akan dimintai pertanggungjawaban. saya masihlah sama dengan anak perempuan sipit yang suka membuat cerita fantasi, saya juga masih sama dengan saya yang suka curhat tentang masalah orang lain dibuku harian saya sendiri. masih sama, hanya kini saya ingin disebut seorang penulis. Ya, meskipun belum menelorkan satu karya pun, saya ingin dikenal dengan sebutan itu. paling tidak itu saya tahu kalau saya ga bodoh-bodoh amat.

so, enjoy your self, jangan lupa saya sudah ingatkan kalian bahwa anda kesasar.
selamat membaca...

Kamis, 06 Juni 2013

Jakarta

Turun dari bis, tiga anak manusia terlihat bingung mencari arah. Dimana angkot nomer 06? Setelah lama mencari barulah yang dimaksud oleh sang navigator angkotnya nomer 16. Orang-orang pasti mengira kami adalah bocah urban yang mencari peruntungan di tanah Batavia. Ya, Jakarta. Sebagai ibu kota Negara, Jakarta adalah representasi dunia atas Indonesia. Kecanggihan alat transportasi, angka kriminalitas, angka pengangguran, semua merepresentasikan kondisi Indonesia.
                Menurutku, hal yang paling mengerikan di Jakarta adalah. GEDUNG. Entah karena aku orang udik atau karena aku cantik, gedung-gedung tinggi menjulang diJakarta selalu meresahkan hatiku. Bukan karena dia merebut suamiku, tapi karena keangkuhan dan kesombongannya. Bagiku, gedung-gedung tinggi itu seakan berkata “disini kami menguasai kehidupanmu 20 tahun kedepan!”. Jadilah aku ingat dengan serial drama korea Boys Before Flower. Dulu, bagiku lelaki macam gu junpyo tidak mungkin ada di dunia nyata, selain rambut permnya. Mana mungkin lelaki yang bisa bangun di bali, makan siang di hawai dan tidur malam di menara Eiffel ada. Tapi nampaknya gedung-gedung itu juga mengatakan “ada gu junpyo disini”. Kau bisa membayangkan, tiap kali aku memandang gedung tinggi, ada wajah gujunpyo dengan rambunya keritingnya. So annoying!.
                Terlalu tinggilah kalau kita membahas gedung tinggi, mari kita turun puluhan meter dibawahnya. Gerobak-gerobak kayu beratapkan bendera partai banyak di parkir didepan pertokoan. Bukan sampah yang mereka angkut, tapi perut yang lapar. Padahal dibelahn daerah Indonesia yang lain belum selesai partai-partai itu bagi-bagi motor. Setengah meter dari sana, berdiri rumah mewah segede alaihim. Didalamnya ayah, ibu, dan anak bercengkrama tentang lokasi liburan selanjutnya setelah konser super junior yang akan diadakan dua malam selanjutnya.
                Huftt… itulah Jakarta, itulah Indonesia. Pada siapa pemilik rumah gerobak itu akan mengeluh jika satpol PP akhirnya menangkat mereka karena sangkaan merusak pemandangan kota? Pemerintah mana yang harus mereka patuhi? Terkadang kita lupa mencoba sudut pandang lain ketika berfikir, hanya karena kita tak pernah menginderanya apakah itu bermakna ia tiada?
Jakarta hanyalah sekian decimal persen dari korban bencana kapitalisme yang sedang melanda dunia. Ia tak bisa diselamatkan oleh supermen apalagi yang bocah kayak astroboy. Dunia butuh Naruto. Lho? Maksud saya dunia butuh perbaikan. Yang perlu kita sadari bencana kapitalisme ini tidak hanya menyerang Indonesia, apalagi Jakarta. Negara-negara timur tengah yang kaya akan minyak bisa dibawah kediktatoran, kaum muslimin terus dibantai, orang miskin amerika terus menerus meningkat, wall street nyaris lumpuh, system hukum yang tajam ke bawah tumpul ke atas.
Inilah rangkaian hari pertama dengan rute bandara-kalibata-bidara cina-istiqlal-monas-istiqlal-bidara cina. Hari kedua adalah jawaban dari episode suram diatas. Makanya tunggu episode selanjutnya.

Catatan jempol:
1. Konoha kena bencana kapitalisme juga ga ya?
2. Episode suram ini sudah terjadi lebih dari 90 tahun, sudahlah lelah dunia membopong demokrasi yang segitu mahalnya. Mari buka literature berapa banyak dana yang sudah dikeluarkan Indonesia untuk demokrasi. Kata ustad Abay, demokrasi tidak boleh disamakan dengan sampah, karena sampah masih bisa di daur ulang, sedangkan demokrasi harus dimusnahkan dan dihilangkan, hingga debu-debunyapun tak kita hirup
3. Ini kisah pra keberangkatan Baru saja naik ke travel aku kaget mendengar kabar kalau seorang ustad kondang akan naik travel yang sama dengan aku dan kawan-kawan. Katanya namanya ustad Yusuf Mansyur, kontan saja aku langsung nanya “ boleh minta tanda tangan ga ya?”.  namanya juga anak kampung, aku heboh aku waktu tau akan bertemu langsung dengan orang yang suka tampil di tivi, jangankan ustad Yusuf Mansyur, kalau ada pencuri ayam di dekat rumah yang ketangkap polisi terus masuk tivi aku pasti datang ke rumahnya nitip tanda tangan. Tapi, ya sudah lah ya. Toh ternyata yang aku temui bukan ustad Yusuf Mansyur tapi seroang bapak yang memang namanya Yusuf Mansyur, aku dan kawan hanya bisa saling pandang. Jadilah perjalanan aku habiskan dengan tidur sambil menahan sesuatu agar tidak keluar dari perut.